Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Salah satu kunci untuk menjadikan anak bersedia bekerja keras di kelas, luar kelas dan di rumah adalah dengan mengembangkan hubungan yang hangat dan bermartabat dengan mereka. Guru perlu membangun keakraban dengan mereka, tetapi jangan pernah menjadikan keakraban itu sebagai sebab lemahnya aturan serta hilangnya ketegasan. Kita harus secara jelas menunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan teman mereka. Kita guru mereka. Tanpa kejelasan ini, anak tidak dapat belajar adab, tidak pula belajar memahami sekaligus menghormati batas-batas yang harus dipegangi.
Mari kita ingat kembali tentang empat pola hubungan guru dan siswa (teacher and students relationship). Banyak pembahasan tentang pola hubungan ini di berbagai buku dengan berbagai istilah yang ada. Dalam perbincangan kita kali ini, saya ingin menggunakan istilah yang saya rasa lebih mudah dipahami sekaligus dirasakan.
Pertama, pola hubungan yang akrab dominan, yakni guru sangat akrab dengan siswa, mereka dapat menyampaikan gagasan maupun perasaan secara terbuka baik di kelas maupun luar kelas, tetapi mereka tahu batas-batasnya. Guru berwibawa. Kata-katanya didengar, ucapannya diperhatikan dan perintahnya diikuti. Ini terjadi karena guru menegakkan aturan dengan tegas, konsisten dan konsekuen. Dan tidak mungkin aturan ditegakkan jika guru sendiri belum menetapkan aturan dan prosedur yang jelas. Maka, sebelum pola hubungan yang akrab dominan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat serta menetapkan aturan dan prosedur (rules and procedures) yang jelas.
Robert J. Marzano menempatkan aturan dan prosedur ini sebagai hal pertama yang harus memperoleh prioritas agar dapat mengelola kelas dengan baik sehingga kita menjadi guru efektif. Kita harus membantu anak berperilaku baik di kelas dengan menunjukkan secara jelas perintah, larangan dan tata-cara yang wajib dipatuhi siswa. Marzano menulis ini dalam buku legendarisnya bertajuk Classroom Management that Works.
Kedua, hubungan bersifat akrab tak dominan, yakni guru sangat akrab dengan siswa, bisa bercanda dengan mereka, tetapi siswa tidak tahu batas-batas yang harus dihormati dalam berhubungan dengan guru. Mungkin aturan dan prosedur telah jelas (bahkan sangat lengkap), tetapi guru tidak menegakkan secara tegas, konsisten, konsekuen dan penuh disiplin. Mungkin juga –dan ini kerap terjadi—aturan dan prosedur itu yang memang belum dirumuskan dengan baik.
Akibat tidak adanya ketegasan ini, maka guru kehilangan wibawa. Konsekuensi yang sangat jelas adalah, siswa sulit belajar adab dengan baik. Mereka tidak terbiasa terikat dengan tata-krama dan aturan. Padahal, aturan yang jelas merupakan salah satu aspek penting yang menjadikan lembaga, perusahaan dan negara mampu tegak sekaligus meraih kejayaan. Lemahnya ketegasan menjadikan anak kurang memperoleh tantangan, kurang pula belajar menyesuaikan diri. Ini dapat berakibat, anak cenderung tidak betah manakala ia kelak mendapati sekolah yang aturannya lebih ketat dan tegas. Sangat berbeda dengan anak yang terbiasa –sekaligus menginternalisasikan nilai dari kebiasaan—mematuhi aturan tegas. Ia tetap dapat berlaku tertib, meski lingkungan sedang kurang mendukung.
Jadi, kalau kelas Anda sering gaduh, hal pertama yang perlu kita tengok kembali adalah pola hubungan kita dengan siswa. Boleh jadi Anda akrab dengan mereka, tapi tidak dominan. Anda tidak menegakkan aturan dan prosedur secara tegas. Atau bahkan aturan dan prosedur itu yang memang belum Anda susun dengan baik. Jika kegaduhan di kelas tidak segera kita atasi, sangat mungkin kita segera menyusul sekian banyak guru yang akhirnya berkesimpulan secara serampangan bahwa siswa memang tidak dapat tertib kalau kita tidak keras.
Nah.
Banyak sekolah (guru) salah kaprah menerjemahkan pentingnya akrab dengan siswa sehingga pola hubungan yang berkembang adalah akrab tak dominan. Akibatnya mereka menuai masalah serius bukan hanya soal rendahnya disiplin dan kurangnya rasa hormat kepada guru. Lebih dari itu, mereka juga tidak memiliki daya juang belajar yang tinggi. Ini terjadi karena, ketiadaan penghormatan terhadap guru menjadikan penjelasan, nasehat dan perintah guru tidak dihargai, tidak pula dipatuhi sepenuh hati.
Dampak lain yang sangat mungkin terjadi adalah, siswa cenderung meremehkan guru baru atau orang yang datang mengunjungi kelas mereka. Dan ini merupakan sikap yang buruk. Terlebih jika ini terjadi di jenjang sekolah dasar, jenjang pendidikan yang bertugas meletakkan dasar-dasar sikap kepada siswa.
Ketiga, tak akrab dominan, yakni antara guru dan siswa memang terdapat jarak. Guru tidak menjalin hubungan yang akrab dengan siswa, tapi ia tetap mengenali tiap-tiap siswanya dengan baik. Ia mampu menyampaikan materi pelajaran secara efektif, salah satunya justru karena ia mengenali para siswanya. Ia mengedepankan sikap tegasnya, tak segan memberi sanksi, tapi pada saat yang sama ia berlaku fair, adil dan peduli kepada siswa. Ia bersungguh-sungguh mengejar, bersemangat dalam menjelaskan dan bersedia menjawab pertanyaan secara tuntas. Maka, meskipun tak akrab, guru semacam ini disegani (bukan dienggani) siswa. Mereka berwibawa. Kehormatannya terjaga. Murid mencintainya.
Boleh jadi siswa merasa rikuh bila berpapasan dengan guru yang tak akrab dominan. Tetapi mereka sangat menghormati gurunya. Sangat berbeda antara segan dengan takut. Meski demikian, pada sebagian kasus, awalnya siswa merasa takut kepada guru yang mengembangkan pola hubungan tak akrab dominan. Mereka baru merasa hormat, memiliki ikatan emosi dengan guru (emotional bondingwith teacher) sehingga ingin senantiasa bertemu setelah mereka mampu menyesuaikan dengan aturan, prosedur dan harapan guru.
Sebagian guru yang tak akrab dominan bahkan terkesan killer. Kejam. Tapi para siswa tahu betul bahwa ia tidak sewenang-wenang. Ia berlaku keras hanya karena sebab yang jelas, punya alasan kuat dan siswa mengerti aturan tersebut.
Keempat, tak akrab tak dominan. Inilah pola hubungan terburuk yang harus dihindari. Antara guru dan siswa bukan hanya berjarak, lebih dari itu tak ada ikatan emosi antar mereka. Guru sulit sekali menguasai kelas, aturan tidak dapat ditegakkan dan siswa merasa bosan atau bahkan tertekan jika bertemu terlalu lama dengan guru di kelas.
Jika tak kunjung tahu sebabnya, guru juga dapat frustrasi. Ia merasa buntu. Bicara tak didengarkan, marah tak membuat siswa merasa jerah bahkan membuat wibawanya semakin terpuruk tak berharga, larangannya tidak dipatuhi dan perintahnya tidak diikuti. Dan inilah kelas yang kacau; kelas yang rawan terhadap munculnya situasi submisif dimana yang kuat akan lebih berpengaruh, sehingga potensial menghasilkan keributan.
Salah sumber rusaknya wibawa guru adalah tidak adanya ketegasan dan konsistensi. Ia mungkin keras, tapi siswa melihatnya bukan karena menghormati aturan. Ia mungkin bicara tentang aturan, tapi tidak ada konsistensi.
Sebab lain adalah sikap peragu dan lamban dalam mengambil keputusan. Ini menyebabkan guru kehilangan kredibilitas sebagai pendidik. Ia mungkin tidak kejam, tapi sulit sekali bagi siswa untuk merasa akrab. Ia mungkin tidak sering menghukum, tetapi tidak ada rasa hormat yang tertanam dalam diri siswa kepada dirinya. Ia mungkin cerdas, bahkan lulus perguruan tinggi dengan predikat cum laude(dan boleh jadi siswa tahu hal tersebut), tapi siswa tidak percaya kepadanya. Tidak percaya ia cerdas. Mereka kehilangan kepercayaan karena guru lamban mengambil keputusan dan ragu-ragu dalam menegakkan aturan.
Dari empat pola hubungan guru dan siswa tersebut, yang terbaik adalah pola pertama, yakni akrab dominan. Jika tidak mampu, pilihan kita bukan yang kedua. Bukan. Pilihan kita adalah pola hubungan ketiga, yakni tak akrab dominan.
Pola hubungan paling buruk adalah yang keempat, yakni tak akrab tak dominan. Di bawah itu, meski tetap buruk, adalah pola hubungan kedua, yakni akrab tak dominan.
****
Ini merupakan materi diskusi rutin Kamis pagi, 11 Oktober 2012 di garasi rumah saya. Saya berusaha untuk menuliskan makalah dan memposting di notes fb ini setiap pekan.
sumber: https://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/akrab-berwibawa/420192648029869
Tidak ada komentar:
Posting Komentar